Penguatan Perempuan Pedesaan (FGD)

Salam damai dari Women’s Crisis Center Sopou Damei GKPS.

Penguatan Perempuan Pedesaan” melalui Forum Group Discussion yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 20 Oktober-15 Desember 2018 (1 x 1 Minggu) di desa Purba  Kecamatan Purba.

 

  1. Dasar Pemikiran

Dalam rangka meningkatkan Pelayanan WCC Sopou Damei GKPS khususnya terhadap kaum perempuan, maka WCC Sopou Damei GKPS sebagaimana sudah ditetapkan dalam program tahun 2018 akan mengadakan kegiatan “Penguatan Perempuan Pedesaan”. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan penguatan kepada perempuan di Pedesaan.

 

Perempuan yang tinggal di pedesaan mengalami ketidakadilan Gender yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan perkotaan, yang mengakibatkan terjadinya Diskriminasi, Marginalisasi/Sub-Ordinasi, Stereotipe, Double Burden, dan Kekerasan (KDRT). Beberapa penyebab terjadinya  hal tersebut adalah:

  1. Budaya Patriakh : Budaya yang menganggap kaum laki-laki lebih tinggi derajat, martabat dan kedudukannya karena itu menilai bahwa perempuan lebih rendah dan karena itu menomorduakan perempuan.
  2. Pendidikan : Masih adanya anggapan dan pemahaman bahwa pendidikan tidak penting bagi perempuan. Mereka lebih mengutamakan jenjang pendidikan yang tinggi untuk anak laki-laki karena pola pikir yang menganggap kaum perempuan hanya akan menghabiskan waktunya di dapur dan mengurus anak.
  3. Ekonomi : Perempuan pedesaan memang bekerja di ladang (juma) namun mereka dianggap sebagai penopang ekonomi saja atau pencari nafkah tambahan (membantu suami). Pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah, masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang, kesempatan dan akses serta kontrol pembangunan, Juga perolehan manfaat atas hasil pembangunan.
  4. Kesehatan : Perempuan kerap sekali tidak diperhitungkan untuk mendapatkan jaminan kesehatan, padahal perempuan lah yang banyak mengalami problem serius di bidang kesehatan khususnya Kesehatan Reproduksi.
  5. Hukum : Masih banyak perempuan tidak memahami dan mengerti Hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara khususnya sebagai perempuan. Perempuan juga sering menjadi korban ketidakadilan, KDRT, Eksploitasi, Human Trafficking namun tidak mendapatkan penanganan secara hukum.
  6. Ketrampilan/Keahlian : Kurangnya ketrampilan/keahlian seorang perempuan membuat perempuan takut dan tidak punya kekuatan untuk hidup mandiri, karena itu diharapkan dengan mempunyai ketrampilan/keahlian perempuan makin berani dan mandiri secara ekonomi.

 

Perempuan Pedesaan khususnya di Simalungun dapat dilihat dari apa yang mereka lakukan dalam kehidupannya sehari-hari, mulai sejak kecil sampai menjadi seorang perempuan dewasa (ibu rumah tangga). Sejak kecil anak-anak perempuan Simalungun sudah diajari oleh ibunya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti: memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan rumah,  dan bekerja di ladang (juma). Pekerjaan ini menjadi kebiasaan bagi mereka hingga dewasa (ibu rumah tangga). Seorang ibu rumah tangga, memakai waktu sehari-harinya dengan bangun di pagi buta, mempersiapkan segala kebutuhan keluarga sampai selesai dan melanjutkan pekerjaannya pergi ke ladang. Dari pagi sampai sore bahkan sampai malam (berkisar 9-10 jam). Sementara kaum laki-laki atau suami masih mempunyai waktu (menghabiskan waktu) duduk nongkrong dan bercengkerama dengan kaumnya di warung /kedai kopi. Begitulah profil kaum perempuan di pedesaan, yang bekerja keras dan tidak mengenal lelah, demi kelangsungan kehidupan keluarga dan tanggung jawab seorang perempuan.

 

Oleh karena itu WCC Sopou Damei ikut ambil bagian untuk membantu masyarakat khususnya perempuan supaya lebih paham dan menjadi penggerak keadilan dan kesetaraan Gender untuk membantu meminimalisir kekerasan (KDRT). WCC Sopou Damei bersama 20 orang perempuan (Ibu Rumah tangga) mengadakan diskusi kelompok (Focus Group Discussion) tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender, Sosialisasi UUPKDRT, Kespro, Isu-isu Sosial tentang Perempuan, Perempuan dan Budaya Simalungun, beberapa Ketrampilan/keahlian.  

 

Melalui kegiatan ini diharapkan mampu mempengaruhi dan mengubah  pola pikir mereka, untuk terlibat dan berpartisipasi meningkatkan Keadilan dan Kesetaraan Gender, Kesejahteraan Hidup, penghapusan tindak kekersan (KDRT), Memajukan kaum Perempuan di lingkungan keluarga, gereja, dan masyarakat.   

 

 

  1. Tujuan

Adapun tujuan yang dicapai melalui kegiatan ini adalah :

  1. Memperkenalkan WCC Sopou Damei lebih dekat kepada kaum Perempuan khususnya Ibu Rumah Tangga (IRT) yang ada di Desa Purba Kecamatan Purba, Gereja dan Masyarakat.
  2. Memberikan pendidikan dan penguatan pada kaum Perempuan di Pedesaan tentang kesetaraan dan keadilan gender, Sosialisasi UUPKDRT, Kespro, Isu-isu Sosial tentang Perempuan, Perempuan dan Budaya Simalungun, dan Ketrampilan/keahlian, untuk meningkatkan Pengetahuan dan kesadaran atas Isu Gender di lingkungan Keluarga, Gereja dan Masyarakat.
  3. Meningkatkan kualitas pelayanan kaum Perempuan di Pedesaan yang bekerja sama dengan WCC Sopou Damei GKPS dalam mendampingi dan menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang terjadi di jemaat dan masyarakat.
  4. Memberikan peluang kepada kaum perempuan yang berada di pedesaan untuk peka, sensitif dan apresiatif terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
  5. Membangun dan mengubah paradigma perempuan tentang isu-isu sosial yang terjadi bagi kaum perempuan yang tinggal di pedesaan.

 

 

  • Hasil yang diharapkan

Adapun hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah :

  1. Peserta dapat mengenal dan mengetahui Visi dan Misi Pelayanan WCC Sopou Damei GKPS.
  2. Peserta memahami dan menghayati Keadilan dan Kesetaraan Gender, UUPKDRT, Kes-Pro (Kesehatan Reproduksi), Isu-isu Sosial tentang Perempuan, Perempuan dan Budaya Simalungun, dan Ketrampilan/keahlian. yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga, gereja dan masyarakat diperhadapkan dengan isu-isu sosial yang terjadi.
  3. Peserta dapat melakukan peranannya di keluarga, gereja dan masyarakat dalam menghadapi isu sosial sesuai dengan konsep penguatan yang diberikan oleh fasilitator dalam diskusi.
  4. Peserta dapat berkontribusi terhadap isu-isu sosial yang terjadi dimana ia berada dan mendapatkan pengetahuan baru.
  5. Peserta menjadi Tim yang dikader oleh WCC Sopou Damei GKPS membantu meningkatkan pelayanan WCC Sopou Damei GKPS.

 

  1. Sasaran/ Peserta

Peserta dalam Diskusi  ini adalah  para perempuan Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 15 orang. Sebagian diantara mereka adalah “klien” dan “penyintas KDRT” yang pernah menerima pendampingan dari WCC Sopou damei GKPS, yang terdiri dari  warga gereja GKPS dan non GKPS

 

Adapun  desa Purba Kecamatan Purba menjadi tempat pelaksanaan adalah dikarenakan hasil pengamatan tim dan supporting tim WCC Sopou Damei wilayah Distrik III GKPS . Juga karean masih banyaknya kaum perempuan yang mengalami ketertinggalan dan menjadi korban kekerasan (KDRT).

 

Comments

comments

Updated: Februari 20, 2019 — 5:55 am