SEMINAR BUDAYA :PEREMPUAN DAN ADAT

 

Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak / Ibu narasumber 

Pdt Enida Girsang MTh, Ibu Erlina Pardede, Bapak K.C Sinaga, Pdt.Juandaha Raya Purba 

Bapak Kadep ,pembawa ibadah , notulis , tim terimakasih untuk kerjasamanya sehingga kegiatan ini bisa berjalan dengan sangat baik, terutama untuk Bapak / Ibu peserta yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir. Besar harapan kami semoga apa yang sudah  didapat dari seminar dapat kita terapkan dalam kehidupan kita . 

Sesuai dengan program kerja WCC Sopou Damei tentang mengadakan SEMINAR BUDAYA : PEREMPUAN DAN ADAT

“Memaknai Ulang Nilai-nilai ADAT-BUDAYA sebagai Salah Satu Cara untuk Menghentikan Kekerasan Berbasis Gender” .

yang diakan di : Sapadia Hotel, Selasa/ 20 November 2018

Pukul : 10 .000 – 17.00 wib

Berikut rangkaian kegiatan SEMINAR BUDAYA : PEREMPUAN DAN ADAT

  1. Ibadah Pembukaan/ Bersama

Kegiatan dimulai dengan ibadah bersama pukul 09.20-10.00

Pengkhotbah : Pdt. Firdaus Purba

Pembawa Ibadah : Pdt. Nurmalayanti Sirait

Nats Renungan : Matius 28:19-20 “Ase haganup halak na porsaya gabe susianNi Jesus” Banyak orang pada zaman sekarang termasuk di Gereja pekerjaannya merangkap. Misalnya, Porhanger yang adalah kepala sekolah juga menjadi pemusik di Gereja. Boleh saja, tetapi kalau bisa semua orang berperan dan menampilkan diri sebagai saksi Kristus dan pewaris tahta Allah. Termasuk juga dalam hal adat dan budaya, Tuhan Yesus tidak memisahkan pekerjaanNya dengan dunia termasuk adat dan budaya. Adakah unsur kasih di dalamnya, itu yang menjadi inti dalam menjalankannya. Adat dan agama harus menggunakan kasih dalam menjalankannya. Nats memberitahukan hal-hal penting yang harus dilaksanakan dengan seksama yaitu pekerjaan yang penuh karunia dan rahmat Tuhan. Tuhan menjamin pekerjaan itu di dalam berkatnya, dan menemani siapa saja yang melakukan tugas misi Allah. Dikaitkan dengan seminar hari ini, dalam adat simalungun, laki-laki dengan perempuan mempunyai status yang berbeda. Tetapi laki-laki harus menghargai perempuan sekalipun dalam adat. Belum ada perempuan yang menjadi raja parhata, tetapi jangan juga perempuan dibelakangkan dalam hal pembicaraan adat. Adat menghargai sesama baik laki-laki atau perempuan karena kita adalah sama di hadapan Tuhan. Kita adalah wakil Tuhan supaya setiap orang bisa bersama-sama merasakan kerajaan Allah.

  1. Kegiatan Seminar

            Seminar diawali dengan kata pembukaan/ sambutan oleh Koordinator WCC Sopou Damei GKPS Pdt.Julinda Sipayung,M.Si. Dan pembukaan kegiatan secara resmi oleh Ka.Dep. Pelayanan GKPS Pdt.Firdaus Purba.

  • SESI I

Waktu : 10.30-12.35

Moderator : Pdt.Japoltak Sipayung

Pembicara :

  1. Pdt. Juandaharaya Purba
  2. Ibu Erlina Ch. Pardede

Topik & waktu:

  1. “Adat Budaya Simalungun Memuliakan Perempuan” pukul 10.30-11.10

Ada yang mengatakan budaya simalungun adalah kekerasan terhadap permpuan, menjadi pintu masuk. Titik yang dipakai untuk menilai hal kekerasan terhadap perempuan tidak dari keaslian kultur simalungun. Simalungun sangat berbeda dengan batak Toba, adat Batak dikatakan banyak sekali menjadi pintu masuk kekerasan terhadap perempuan. Sebenarnya di dalam suku Simalungun justru perempuan sangat dimuliakan dengan konsep ‘puang bolon’ yang berasal dari istana ‘rumah bolon’. Rumah bolon merupakan awal dari adat simalungun, dan puang bolon kedudukannya setara dengan raja yang juga bisa sebagai pengambil keputusan. Jadi perempuan juga sangat dimuliakan dan tidak sembarangan. Banyak bukti bahwa Simalungun memuliakan perempuan. Banyak cerita sejarah dalam adat Simalungun di mana laki-laki memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki dalam adat dan budaya aslinya. Dari pakaiannya, orang Simalungun terlihat statusnya walaupun zaman sekarang sudah hampir punah.

  1. “Perempuan dan Adat (Upaya Interpretasi)” pukul 11.10-11.45

Adat menciptakan banyak sekali kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan. Harus berdamai dengan adat dengan cara dimaknai ulang. Kita sudah berada pada kehidupan pos-modern dan mengikuti zaman, tidak mungkin mengikuti zaman batu yang banyak sekali ketidak-adilan. Pertama harus mengerti apa makna dari budaya dan kebudayaan. Kebudayaan sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan dan tidak bisa terpisah dari budayanya. Ketika lepas dari satu budaya maka kita pasti akan pergi kepada budaya yang lain. Keseluruhan hidup kita sebenarnya adalah unsur-unsur kehidupan. Interpretasi adat dan budaya  masing-masing wilayah berbeda-beda sekalipun dalam suku yang sama. Kebudayaan mempunyai sifat dan fungsi yang bertujuan persatuan dan bukan kekuasaan, termasuk juga bukan dalam hal penguasaan suami atau istri. Kita harus kuat dalam kebudayaan kita sendiri yang fungsinya untuk harmonisasi bukan kekacauan. Jika adat dan budaya tidak dilakukan tentu ada sangsinya, sama halnya dengan gereja ada ruhut paminsangon dohot parmahanion sebagai tolak ukur pemberlakuan keadilan. Tapi lebih sering paminsangon yang dijalankan daripada parmahanionnya.

Adat batak mencakup banyak hal dalam segala sisi kehidupan kita, mulai dari lahir sampai meninggal adat tetap hadir dalam hidup kita. Posisi perempuan dalam adat batak, elek marboru, tidak masuk dalam tarombo, parhobas, tidak pewaris, dan dianggap sebagai tambahan. Ada istilah perempuan sebagai penumpang, dan lebih banyak perempuan bekerja. Dari segi sosiologis, kekerasan terhadap perempuan dalam masyarakat ada penyingkiran, di nomor-duakan, bahkan beban ganda. Kebudayaan yang dikonsep manusia laki-laki dan perempuan. Dalam budaya batak perempuan dipanggil sebagai ‘boru ni raja’, ‘inang soripada’, ‘parsonduk bolon’, ‘parbahul-bahul na bolon’, ‘sitiop puro’ yang menjadi status yang mengangkat perempuan. Banyak sisi feminim adat yang harus kita suarakann dalam hal keadilan dan kesetaraan.

Diskusi :Pukul 11.45-12.35

Pertanyaan sesi I :

  1. Sipayung (Setia Negara)

Kepada pak Pdt, adakah budaya simalungun sampai sekarang yang masih menyimpan kekerasan terhadap perempuan? Supaya tidak diwariskan dalam kehidupan sekarang.

Ibu pardede, ada 7 sistem pokok dalam adat, tapi pada akhirnya musyawarah dan mufakat. Perempuan harus diikut-sertakan. Peradatan harus sesuai dengan kebenaran yang alkitabiah, bagaimana supaya ada penguatan kepada siboan adat/parhata tetapi sejalan dengan khotbah di gereja.

  1. Denomen Purba (GKPS Diateitupa)

Kepada kedua narasumber, berbuat baik tidak perlu diperdebatkan tetapi dilaksanakan. Kalau persamaan harmonisasi tidak akan putus-putus. Jadi pengertian kami kasihlah yang berjalan menurut fungsinya masing-masing. Tugas adat hanya kita lanjutkan, bukan kita bentuk. Terima kasih.

  1. Renni Sinaga (Perdagangan)

Pak Pdt, tolong jelaskan kepada kami tentang gotong yang berbeda-beda bentuknnya.

  1. Darma Sinaga (Embong, panei tongah)
  • Kepada Pdt. Juandaha Purba, berlatar belakang KDRT akhirnya berpisah. Di adat simalungun marbagi tikar. Bagaimana pertemuannya dalam ajaran kristen supaya tidak salah.
  • Bolehkan membicarakan adat jikalau belum menerima adat? Krn bisa jd sesuka hati.
  • Sebutan apa yang sebenarnya ‘batu ni demban’ atau mahar dalam adat simalungun?
  1. St.Erminson Purba (Purba Saribu)
  • Soal paradatan kami kurang mengerti dalam nilai dan adat yang berusaha menghentikan kekerasan gender. Bagaimana cara kita dalam lingkungan GKPS menyampaikan keterlihatan seminar ini dalam menghargai perempuan di tengah-tengah jemaat yang mendahulukan perempuan termasuk dalam hal pendidikan.

Respon narasumber :

  1. Pdt. Juandaha R purba
  • Tentang kebudayaan dalam kekerasan perempuan, tadi kami sudah katakanbahwa budaya simalungun memuliakan perempuan. Jadi kalau tidak memuliakan/patunggung daboru berarti tidak beradat.
  • Gotong raja sapari, tahun 1930 masih zaman Belanda daerah Zelfbestuurder Simeoengoen yang berarti wilayah istimewa kekuasaanyang dipakai para raja simalungun.Gotong yang dipakai sekarang yang dipakai tahun 1960 yang digunakan dalam horja adat. Ada juga gotong seperti yang dipakai pdt sekarang disebut gotong ari-ari yang sudah jarang dipakai.
  • Partadingan sisuhun padan, tonggo dan harapan-harapan supaya menjadi inang/ibu di tengah-tengah keluarganya. Manggalar adat, manjalo adat. Ai do na adong bani simalungun, menikahkan istri berarti manggalar adat. Tombuan ijujung boru ni hasuhuton manombah tondong, nilai filosofinya kita menghadap tondong dengan makna bahwa karena borunyalah maka ada dia. Sebenarnya tidak bisa orang berbicara adat kalau belum menerima adat. Na lang marborhok bahasa yang dipakai untuk yang belum bisa membicarakan adat, masih ada yang harus di bayar adat.

Moderator : Adat simalungun tidak ada adat paulakkon boru, dan bertentangan dengan adat Kristen.

  1. Ibu Erlina Pardede 
  • Efesus 5, sebagai dasar kehidupan juga dipakai dalam khotbah yang akan berkeluarga. Tetapi keseringan yang dipakai hanya pesan kepada istri yaitu ‘hai istri, tunduklah kepada suamimu’. Sementara dalam ayatnya yang lain seorang ayah/bapak harus bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. Mengatur adat itu susah, dan sekarang sudah menjadi profesi dan jadi mata pencaharian. Budaya kita tidak berhak memperbaharui, tetapi harus diinterpretasi ulang. Intinya jangan diubah, tetapi maknanya perlu diubah kepada yang lebih adil dan ramah sebagai kesetaraan. Jangan menginterpretasi agama yang paling benar dan hebat. Agama dan adat harus bisa dilihat dalam satu kerangka yang luas dan jangan dipisahkan. Kita manusia yang berbudaya harus menginterpretasi, jangan menjadikannya kekuasaan.

Moderator :

  • Tunggung do daboru pakon dalahi, perempuan dan laki-laki setara dalam adat Simalungun.
  • Budaya itu dinamis dan selalu diinterpretasi, mari munculkan interpretasi yang positif supaya adat kita membawa kepada kehidupan yang harmoni, dan tidak materialistis dan hedonis.
  • SESI II :

Waktu : 13.25-14.00

Moderator : Pdt.Japoltak Sipayung

Pembicara :

  1. St. Drs. Karmidin C. Sinaga
  2. Pdt. Enida Girsang

Topik & waktu :

  1. “Perempuan dan adat” pukul 13.25-14.00

Tidak bisa dipungkiri kita hidup di tengah-tengah kehidupan yang selalu berkembang, dan perkembangan zaman bisa mempengaruhi kehidupan kita. Termasuk dalam hal berkeluarga sebagai suai-istri. Seorang ibu tidak hanya sebagai sosok pemberi anak. Istri juga bertanggungjawab dalam hal berjalannya adat dan budaya. Suami dan istri bahkan anak-anak sudah terikat dalam aturan, melalui budaya dan moral yang ditanamkan sejak kecil dan melalui firman Tuhan yang diajarkan bagi keluarga.

  1. “” pukul 14.00-

Adakah perempuan yang menjalankan adat? Tanggung jawab domestik yang daritadi diperjelaskan, bukan peranan. Adakah di antara yang dibicarakan tadi yang memberikan pencerahan tentang peran perempuan. Adakah  persoalan dalam adat kita? Kita memaknai ulang, bukan mensosialisasikan adat. Ada yang perlu kita lihat dan memaknai ulang agar tidak ada kekerasan berbasis gender. Di rumah juga kita bertengkar, jadi memang ada masalah dalam kebudayaan dan gender. Dua-dua, laki-laki dan perempuan bergerak dari sudut pandang yang berbeda-beda dan menggunakan penglihatannya sendiri. Budaya dalam perspektif simalungun dan Alkitab. Harus ada saling menghormati satu sama lain yang dinamakan sepadan.

Mari sebutkan kodrat perempuan: melahirkan, menyusui, menstruasi.

Kodrat laki-laki : pimpinan, punya jakun dan penis, pakai kumis.

Kodrat adalah sesuatu yang dari Tuhan dan tidak bisa dipertukarkan.

Diskusi :pukul 14.00-16.10

Pertanyaan :

  1. Tondang

Budaya i tongah- tongah ni keluarga aima marhiteihonni perkawinan campuran. Ini menyebabkan berbagai permasalahan suami istri yang tidak sejalan. Itu terjadi pada orang simalungun sampai sekarang. Dominasi yang terjadi dalam adat di tengah-ttengah warga simalungun.

Pdt.enida, dipandang dari sudut alkitab benar seperti yang dikatakan pembicara. Tapi dalam adat simalungun tidak ada kekerasan. Mari kita sama duduk pemangku adat simalungun dengan orang teologia untuk membuat suatu rangkuman tentang teologia yang ada di GKPS.

  1. Jarisman Sinaga (PSB Panombeian)
  • Life without gender is dangerous. Mulai 2012 sudah kami bahas tentang jender. Laki-laki dengan perempuan hanya dipisahkan oleh kodrat di luar itu adalah sama. Jadi perlu kebersamaan untuk memaknai adat dan kebudayaan. Adat tugas laki-laki dan perempuan dan harus bersama.
  • Ayat yang ada dalam bibel kita, Amsal 31 sangat jarang dikhotbahkan di GKPS. Dalam ayat ditantang, kenapa pesannya hanya kepada perempuan? Tugas-tugas hanya kepada perempuan dipertegas.
  • Situasi adat sudah banyak yang harus diperbaiki. Misalnya tentang warisan, bagaimana yang sebenarnya warisan? Dalam simalungun rumah itu untuk laki-laki paling kecil. Bagaimana dengan perempuan yang di luar harta? Ini adalah pendapat saya ketika di USI. Jangan sampai salah dalam hal warisan. Terkadang yang jadi persoalan ketika yang tidak berurusan sesuai adat yang ikut campur sehingga terjadi keributan. Bagaimana kita merumuskan hal ini supaya bisa diserap dalam GKPS.
  1. Limerdame
  • Tenang adat dengan bergereja, satu yang tidak saya terima sampai saat ini. Kalau marpadan anaknya, perempuan/ inang tidak lagi memiliki suami dia tidak bisa menandatangani sebagai saksi perwakilan yang menikah. Harus dengan perwakilan panggi/bapatuanya. Kalau seorang bapak meninggal dalam rumah tangga yang menerima hiou ayub-ayub adalah bapa tua yang diberi tondong jabu. Bukan anak yang menerima tetapi adek/abang dari bapak yang meninggal. Menurut saya tidak perlu ada perwakilan.
  • Perempuan juga sekarang banyak jadi subjek pelaku KDRT. Pengurus gereja juga sering tutup mata dengan alasan itu urusan pribadi.
  1. Robert Damanik (Merek Raya)
  • Apakah nilai luhur parsonduk itu merendahkan atau meremehkan perempuan? Karena parsonduk memberikan kekenyangan dan kesenangan kepada orang. Kalau parsonduk kepada laki-laki itu meremehkan laki-laki. Jadi memang dari sisi mana kita memandang. Adakah perempuan yang tidak peduli dengan ini? karena perempuan juga ada yang emperhatikan adat dan peduli dengan simalungun sehingga bisa menegur yang lain ketika perjalanan adat yang dipimpin laki-laki itu tidak pas.
  • Ada baiknya partuah maujana simalungun, yang memaknai adat simalungun adalah warga GKPS. Jadi supaya lebih jelas kedudukan adat di tengah-tengah simalungun. Supaya regenerasi juga bisa mengetahui tentang adat.

Respon Narasumber :

  • Karmidin
  • yang kami maksud membudayakan Kristen dengan mengkristenkan budaya. Membudayakan Kristen berarti menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Kristus. Kalau budaya yang sesuai dengan jalan Krristus lakukan dan jalankan dengan tegas.
  • Rumah tangga terasa hambar kalau tidak ada inang di dalamnya. Kalau tidak ada inang terasa tidak teratur dan seperti ayam kehilangan induk. Karena memang inang dihormati, dan kalau tidak di rumah tidak ada yang dihormati tersebut rasanya tidak sempurna.
  • Perkawinan campuran, siapakah yang membawa bendera keturunan? Kalau memang suami ya jalankan sesuai kebudayaan laki-laki. Karena laki-laki memegang pengambil keputusan terbesar dalam rumah tangga. Bagaimana supaya suami dengan istri sama-sama menjalankan kebudayaan dalam keluarganya. Kalau salah satu program GKPS adalah melestarikan kebudayaan, beranikah pendeta mengatakan hal yang benar sesuai adat dan kebudayaan simalungun? Saya rasa belum ada yang berani.
  • Masalah warisan sudah semakin maju, tidak lagi seperti zaman dahulu. Sudah banyak yang memberlakukan pembagian yang sama antara laki-laki dengan perempuan. Kita tidak terpaku pada budaya zaman dahulu yang mendahulukan laki-laki dalam warisan.
  • Masalah curhat, memang sebaiknya kepada pendeta atau penginjil. Kalau terjadi kekerasan dalam rumah tangga ya harus ada pertobatan. Hanya itu saja, karena gereja bisa menangani dan gereja harus care dengan setiap masalah itu.
  • Masalah adat, hiou yang diterima masing-masing dan kenapa harus ada bapa tua sebagai wakil menanda tangani. Itu supaya ada peran bapa tuanya supaya bertanggungjawab pada dia jika terjadi suatu permasalahan. Dan kalaupun inang yang melakukan bisa juga dia yang menjalankannya. Tidak ada patron tentang apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan dalam hal itu.

 

 Pdt.Enida Girsang 

  • Parsonduk bolon memang itu tidak merendahkan, tapi ketika laki-laki digunakan seperti mahkota dan lain sebagainya tetapi kenapa perempuan justru menjadi beban tanggung jawab parsonduk. Laki-laki kan sebagai pargotong, kenapa perempuan jadi parsonduk? Kenapa tidak disebut sebagai parbulang? Perempuan sudah dimungkinkan untuk ranah publik. Tetapi ranah domestik yang sering ekali dipakai untuk sebutan perempua, urusan rumah tangga saja dan tidak umum. Sudah banyak jabatan pemerintahan yang diduduki oleh perempuan. Kalau mengatakan kesetaraan jangan ada yang di bawah dan jangan ada yang di atas. Ranah domstik itu bukan kodrat. Memang tanggung jawab perempuan, tapi kenapa laki-laki justru hanya mendapat bagian yang dimuliakan dan ditinggikan. Parbahul na bolon kalau memang setuju juga bisa kepada laki-laki, mari kita reinterpretasi supaya bersama-sama dalam ranah laki-laki dan perempuan.
  • (St. Jarisman Sinaga) Kami laki-laki setuju ketika pekerjaan dibagi, tetapi perempuan mengatakan tidak usah supaya perempuan yang mengerjakannya. Jadi oke-oke saja laki-laki mau membantu urusan rumah tangga.
  • Memang ada lelaki yaang demikian, tapi tidak semua. Tetapi dalam Amsal 31, hanya bagian tanggung jawab kepada perempuan dan hanya sepenggal saja yang dipakai. Dalam nats ini dia orang kaya, pembantu ada, pakaiannya terbuat dari kain linen. Jadi bukan perempuan itu yang mengerjakan semuanya dan memasak dan lain sebagainya. Nah ketidak adilan yang terjadi kalau bisa ranah publik laki-laki dengan perempuan ya sama-sama maju ke depan. Dam ranah domestikpun mari bersama-sama melaksanakannya. Jadi lihat konteksnya. Dikatakan bangun pagi-pagi sekali memang tetapi lihat juga konteks kehidupannya. Jadi jangan ganggu adat dan budaya, tetapi jangan diangkat yang hanya memberatkan perempuan yang memiliki beban ganda.

 

(Pdt. Juandaharaya Purba)

Memang benar dari sisi feminis yang disampaikan Pdt.Enida. konsep alkitab mengenai pargotong tidak ada dalam konsep simalungun, dan bahkan parsonduk bolon juga tidak ada istilahnya dalam simalungun. Na adong pitah paramangon pakon parinangon. Tidak tau kapan peranan ini masuk kepada adat simalungun yang original. Saya setuju dengan Pdt.Enida jangan lagi dipakai pargotong atau parsonduk. Tapi penggunaan gotong dan bulang itu sebagai tanda bahwa dia menjadi seorang suami atau istri yang mempunyai tanggung jawab dalam keluarga. jadi istilah itu jangan ditambahkan lagi dalam bias gender ini.

()

Masalah gotong, sebelum ada gotong apa yang dipakai kita? Kalau raja dengan warna putih, dan sebagainya. Ketika sudah menggunakan gotong baru ada sebutan pargotong. Sama halnya ketika orang jawa melakukan jawanisasi, mereka menggunakan gotong untuk menunjukkan kedudukan. Jadi gotong itu berasal dari bahasa jawa, dan dipakai sebagai tanda kesetaraan yang diberikan kepada orang yang dijawakan. Jadi mari aslikan kembali budaya simalungun yang asli.

(Ev. Tondang)

Saya martuah maujana simalungun, tidak pernah menggunakan bahasa gotong. Karena memakai gotong jadi disebut par-gotong (yang memakai gotong). Jadi tidak ada penggunaan kata ini bahkan di dalam perjalanan adat.

(Sekum Martuah maujana Simalungun)

  • Ketika kami mengikuti pembicaraan mulai awal. Tentang hiou ayub-ayub bukan bapa tua yang menerima tetapi panonggolan. Kalau tidak ada panologam mayub-lah hiou tersebut.
  • Martuah maujana, kita simalungun tidak hanya Kristen tetapi ada juga muslim. Jadi adat simalungun GKPS juga seharusnya adat simalungun di muslim sama. Kalau ada pekerjaan adat selalu dibuka oleh gereja, sementara itu adalah tugas cucu/pahompu.
  • Begitu juga dalam hal memasuki rumah, sudah pendeta yang membuka bukan pemangku adat. Kalau harus beragenda, bagaimana dengan yang agaama islam? Karena mereka juga getol dalam adat simalungun. Dulu ruhut paminsangon parhorja kuria juga dimasukkan dalam adatnya. Ini perlu diperbaiki. Memang terima kasih kepada GKPS yang sudah mempertahankan
  • Yang menggunakan gotong jangan langsung dikatakan budaya simalungun. Tidak sebatas itu saja, jadi gereja juga bisa mengingatkan ini. 1 Musa 1:28, perempuan sebagai pangurupu/ menunjang pekerjaan laki-laki. Boleh bekerja apa saja dalam ranah publik, tapi berkaitan dengan adat masuklah ke dalam adat.

(St. Karmidin)

  • Tujuan laki-laki dengan perempuan adalah bahagia dan hidup sejalan melalui kehidupan berkeluarga. Memang pekerjaan inang tidak bisa selesai, karena istri tidak bisa lepas dari segala pekerjaan jadi harus dihormati.

(Pdt. Enida)

  • Ternyata belum selesai tugas PMS, memang benar dirumuskan perjalanan adat dan budaya. Tetapi harus diikuti dengan zaman sekarang, ketika memasuki rumah dimintakan pendeta dan buka tulang kenapa tidak? Tetapi PMS dengan gereja harus berjalan bersama supaya pekerjaan kita bisa selesaikan bersama..
  • Jangan katakan pekerjaan inang tidak pernah selesai, tapi mari kita selesaikan bersama-sama dalam segala pekerjaan.

Moderator :

Sebagai penutup teringat kepada kisah RA.Kartini yang menerbitkan buku habis gelap terbitlah terang. Jadi mari kita bersama-sama laki-laki dan perempuan berjalan bersama dalam menyelesaikan tugas-tugas kita dalam kehidupan ini.

 

DIATEI -TUPA

 

 

 

 

Comments

comments

Updated: Februari 20, 2019 — 5:54 am